Selasa 17-Oct-2017 (14:49)
Selamat siang tamu !!
Home | Masuk | Pendaftaran
Recommended Song by: Monika

Doki Doki Literature Club! OST - Your Reality
Downloaded: 35 times

Last forum activity:
Kamui posted something in topic
Mobile Legends Bang Bang 5vs5 Fair MOBA for Mobile 3 Lane

Join Group FB AoiTenshi
Like Fanspage AoiTenshi
Bab 1 " Pemula Amatir "
1 2 3 ... 12 >>
Chapter 1

Part 1

Pada jaman dahulu kala, dahulu sekali.

Dewa terdahulu, bersama dengan pelayan dan ciptaannya, berperang satu sama lain dalam rangka mencapai kekuasaan sejati seorang Dewa.

Peperangan itu berlanjut terlalu lama, begitu lama sehingga menimbulkan banyak korban jiwa di kedua belah pihak.

Makhluk berakal budi saling membenci satu sama lain, menghancurkan satu sama lain, dan dengan ganasnya membantai satu sama lain.

Para Elves, hidup di desa-desa kecil, seorang pengguna sihir dan pemburu musuh mereka.

Dragonian pasrah terhadap nasib mereka dan satu-persatu mereka dibantai, dan Werebeast memangsa mangsa mereka seperti makhluk buas.

Semua bagian bumi berubah menjadi gurun yang dilahap oleh cahaya bulan, ditelan ke dalam kegelapan yang semakin gelap karena perang antara dewa.

[Raja Iblis], mengubah para Phantasma, dan para monster pengikutnya menjarah seluruh penjuru bumi.

Di dunia ini, banyak sekali keluarga kerajaan, para permaisuri cantik, dan tak lupa para pahlawan yang tak lebih dari seorang yang begitu rakus dan korup.

Imanity hanyalah sebuah ras kecil di antara mereka.

Mereka membuat negara, membentuk fraksi, dan mempertaruhkan semuanya demi keselamatan mereka.

Tidak ada banyak dongeng legenda para pahlawan yang disyairkan oleh para penyair—karena zaman ini adalah zaman pertumpahan darah.

Ini adalah sebuah legenda yang begitu lama yang tersebar di langit, laut, dan tanah—dunia ini dikenal dengan nama [Papan Permainan]

Tapi perang yang orang-orang yakini akan menjadi perang yang tiada akhir pada akhirnya telah mendekati ujungnya.

Di langit, di laut, di tanah---bakan bintang-bintang sudah kelelahan dengan perang yang sudah berlangsung begitu lama, dan pada saat para hampir kalah, mereka semua menyerah pada perang yang begitu lama.

Dan demikian—pada saat itu, seorang dewa yang sudah menahan kekuatannya begitu lama mengambil kursi kekuasan sang Dewa.

Dia adalah dewa yang tidak berpatisipasi di dalam perang itu sampai akhir.

Dan ia hanyalah seorang pengamat.

Kalian yang memanggil diri kalian makhluk berakal budi.

Kalian yang lalah dan sudah mencapai batas kekuatan kalian, lelah akan kekerasan yang tiada henti, keputusasaan, dan yang menyebarkan hawa kematian, tunjukkan padaku.

Apa yang membedakan kalian dari [Gerombolan Makhluk Buas]?

Semua ras berusaha untuk menunjukkan kepintarannya pada dewa itu.

Tapi kata-kata mereka hanya berlalu di dunia yang sudah mencapai akhirnya.

Tidak ada satupun jawaban mereka yang mampu memuaskan sang Dewa.

Maka kata sang Dewa:

Aku melarang semua tindakan pembunuhan dan pembantaian di surga dan di bumi di dunia ini.

Kata-kata itu menjadi [Sumpah], sebuah peraturan yang absolut dan abadi di seluruh dunia.

Demikian, pada hari itu [Peperangan] dihilangkan dari dunia itu.

Namun, semua makhluk yang berakal budi itu mengeluh terhadap perintah sang Dewa.

‘Bahkan jika tidak ada [Peperangan], [Konflik] masih belum hilang----‘

‘Jika begitu,’ lanjut sang Dewa.

Kalian para [Exceed] yang mengklaim diri kalian sebagai makhluk berakal budi.

Kalian begitu haus akan ilmu pengetahuan, bakat, dan alasan.

Kalian membangun sebuah menara kebijaksanaan, dan kalian berusaha menunjukkan kepintaran kalian.

Sang Dewa mengambil ke-16 pion catur dan tertawa begitu lantang.

Demikian, [Kesepuluh Perintah] dibuat, dan [Perang] dihilangkan dari muka bumi.

Dan semua permasalahan diselesaikan dengan [Permainan].

Nama dari Dewa yang menjadi Sang Dewa Tunggal adalah—Tet.

Dia yang kemudian disebut sebagai [Dewa Permainan]

Part 2
gagal
Benua Lusia, Kerajaan Elchea—Ibu kota Elchea.

Berada di selatan garis ekuator dan berada di bagian paling barat dari benua itu yang memanjang hingga timur laut, ibu kota itu adalah sebuah kota kecil di dalam sebuah negara kecil.

Pada saat zaman peperangan antara Dewa, wilayah negara ini mencakup setengah dari benua ini, tapi sekarang wilayahnya menciut menjadi sekarang ini.

Dan sekarang yang tersisa dari kerajaan itu hanyalah ibu kota itu sendiri.

Salah, lebih tepatnya, wilayah itu adalah wilayah Imanity.

Agak sedikit jauh dari wilayah ibu kota, di luar wilayah kota.

Di lantai pertama di sebuah bar yang mencakup sebagai penginapan, persis seperti yang ada di dalam game RPG. Dua orang gadis berada di sana sedang bermain kartu dan dikelilingi oleh para penonton.

Salah satu gadis itu terlihat seperti gadis remaja, dengan rambut merah dan lekuk tubuhnya begitu mudah terlihat dari pakaian yang dia pakai.

Dan gadis satunya...

Terlihat seumuran dengan gadis di depannya itu, tapi dia terlihat lebih tua karena pakaian yang dia pakai.

Dia memakai sebuah kerudung hitam dan pakaian berlengan panjang seperti pakaian seorang pelayat—rambutnya juga sama-sama hitam.

Permainan yang dia mainkan itu mungkin...adalah poker.

Raut muka mereka berdua begitu berlainan. Wanita berambut merah itu memiliki raut muka serius, mungkin dia tidak bisa mengatur emosinya.

Sementara gadis yang lain, gadis berambut hitam itu tidak memiliki emosi di mukanya, seperti orang mati, tapi orang yang melihatnya bisa merasakan bahwa dia itu adalah orang yang begitu tenang dan sabar.

Alasannya jelas---di depan gadis berambut hitam itu, ada tumpukan koin emas yang begitu tinggi, sementara gadis di depannya itu hanya memiliki sejumlah koin emas yang tersisa.

Dengan kata lain, wanita berambut merah itu telah kalah telak.

“Hei, apa kau tidak bisa lebih cepat?”


Pada saat ini, para penonton yang sedari tadi sudah menikmati minuman mereka sepanjang hari, meneriakkan ejekan-ejekan kasar pada perempuan itu.

Perempuan berambut merah itu telrihat begitu tegang dan stres.

Tapi di sisi lain—situasinya sudah berubah menjadi atmosfer yang lebih heboh.

.............

Di luar bar dimana pertandingan itu berlangsung, seorang gadis muda dengan memakai kerudung, duduk di sebuah meja di teras barr itu dan menatap jendela yang menampilkan isi dari bar itu dan berbicara.

“Ada apa dengan kehebohan itu?”

“Ah? Kau tak tahu? Apa kalian berdua orang asing—tunggu, tidak ada negara lain yang tersisa bagi para Imanity.”

Di tempat duduk di sebelah gadis yang menatap jendela bar itu, dua orang yang duduk di meja itu juga sedang memainkan permainan yang mirip.

Sebuah permainan antara seorang laki-laki muda berkerudung seperti gadis berkerudung itu dengan seorang laki-laki paruh baya dengan janggut dan bir.

Laki-laki itu menjawab.

“Ah, kita datang dari desa yang jauh dari sini, jadi kita tidak tahu apa yang sedang terjadi di ibu kota ini.”

Anehnya, permainan yang dimainkan oleh kedua orang itu juga sama dengan yang ada di dalam bar itu [Poker].

Tapi perbedaanya adalahmereka menggunakan tutup botol daripada koin emas di sana.

Pria paruh baya itu membalas perkataan
Komentar (0)
1 2 3 ... 12 >>
Download Java buku

»[LN] No Game No Life
Perpustakaan
» Halaman utama «
» DAFTAR HADIR «
12 Aktif: natsu22, Chikoer, shinji_kuro, Shadowgamersz, Remilia, Ryouma, sinque, ArsyadS, atikai69, reiza, maik, Adit.
Pengintip: 6
» MEMBER BARU «
jumarid jumarid
Malfoy13 Malfoy13

» Aoitenshi Fansub-Coder «

» Utamakan Kualitas Bukan Kuantitas Video «
© 2014 | JohmCMS