Selasa 17-Oct-2017 (14:46)
Selamat siang tamu !!
Home | Masuk | Pendaftaran
Recommended Song by: Monika

Doki Doki Literature Club! OST - Your Reality
Downloaded: 35 times

Last forum activity:
Kamui posted something in topic
Mobile Legends Bang Bang 5vs5 Fair MOBA for Mobile 3 Lane

Join Group FB AoiTenshi
Like Fanspage AoiTenshi
Oregairu Jilid 1 Bab 3 Bagian 6
1 2 >>
Oregairu Jilid 1 Bab 3 Bagian 6
==================================================================================
Yukino oh Yukino... Pedas amat kata-katamu... Ane senang banget sama Bagian ini, terutama saat wejangan-wejangannya Yukino terlontar... Betewe, pâtissier adalah chef yang ahli dalam membuat hidangan berupa kue...
Selamat Menikmati...
==================================================================================
Bab 3 - Berulang Kali, Yui Yuigahama Bersikap Gelisah

Bagian 6


Kami pun selesai mencicipi kue kering buatan Yuigahama. Jika ini di dalam manga, riwayat kami pasti bakal tamat, kami akan jatuh sakit lalu tak sadarkan diri setelah memakannya. Kalau boleh bilang, saking buruknya benda tersebut, sampai-sampai kita akan merasa senang andai cuma jatuh pingsan saja. Kalau aku, lebih baik memilih jatuh sakit daripada harus memakannya lagi.

Lalu sebuah pikiran terlintas di benakku. Apa ia memasukkan jeroan sebagai bahan di kue keringnya ini, ya? Tapi kurasa takkan sampai seburuk itu, setidaknya itu tak langsung membunuh kami semua. Namun, jika dipikir lebih dalam lagi, bukan hal mustahil kalau itu lambat laun akan memicu sel-sel kanker.

"Ih... sudah pahit, menjijikkan pula..." Ujar Yuigahama sambil mengunyah kue keringnya dengan air mata yang berlinang. Yukinoshita langsung menyodorkan cangkir teh padanya.

"Akan lebih baik jika itu disterilkan dulu dan sebisa mungkin jangan mengunyahnya. Berhati-hatilah untuk tidak membiarkan lidahmu tersentuh olehnya. Kue kering itu memang seperti racun mematikan."

Hei, jangan seenaknya saja berkata hal-hal mengerikan begitu.

Yukinoshita lalu menuangkan air panas dari ceret pemanas dan menyeduh seteko teh hitam. Seusai ia menuangkannya ke cangkir kami masing-masing, teh itu segera kami minum supaya rasa yang tak enak pada lidah kami ini bisa segera hilang. Paling tidak, semuanya sudah kembali normal, dan aku pun bisa bernapas lega.

Kemudian, Yukinoshita segera membuka mulutnya, seakan ia ingin mengganggu suasana santai yang kini tengah kami nikmati. "Nah sekarang, ayo pikirkan cara untuk membuat ini jadi lebih baik."

"Bagaimana kalau Yuigahama tak usah memasak lagi?"

"Kau memang enggak mau memberiku kesempatan, ya?!"

"Hikigaya, yang tadi itu adalah usaha terakhir kita."

"Usaha terakhir? Jadi semua ini akan berakhir begitu saja?!" Ekspresi Yuigahama yang terkejut segera berubah jadi putus asa. Tampak murung, bahunya terturun dan ia menghela napas panjang. "Kurasa, memasak memang enggak cocok buatku... orang-orang menyebut itu sebagai bakat, 'kan? Nyatanya, aku memang enggak punya bakat."

Yukinoshita spontan sedikit berdesah. "...begitu, ya. Kurasa aku punya solusi"

"Solusi apa?" Tandasku.

"Berusaha lebih keras." Jawab Yukinoshita dengan tenang.

"Kausebut itu solusi?" Sejauh yang kuamati, itu justru jadi solusi paling buruk. Di titik ini, memang tak ada lagi yang bisa dilakukan selain memaksanya untuk lebih serius, sebab cuma itu pilihan yang tersisa.

Tapi jujur saja, hal tersebut akan selalu jadi percobaan yang sia-sia.

Pasti akan lebih mudah jika ia tinggal bilang, Hentikanlah, tak perlu berharap lagi. Mencoba begitu keras dan berusaha tanpa arti pada hal semacam ini, akan berakhir sia-sia. Jika Yukinoshita memang ingin menyerah terhadap Yuigahama, maka ia bisa memanfaatkan waktunya itu untuk bekerja keras pada hal lain. Pastinya itu akan lebih efisien.

"Berusaha keras adalah solusi paling tepat. Jika kita melakukannya dengan benar, hal tersebut akan berhasil." Tanggap Yukinoshita yang seakan sudah membaca pikiranku. Apa ia punya indra keenam, ya? "Yuigahama, tadi kaubilang kalau kau tak punya bakat, bukan?"

"Hah? Ah, iya, tadi aku bilang begitu."

"Tolong singkirkan pemikiran semacam tadi. Mereka yang tak pernah berjerih payah tak pantas iri pada mereka yang berbakat. Mereka yang gagal sampai berpikir seperti itu, karena mereka tak bisa membayangkan perihnya kerja keras yang dilakukan oleh mereka yang berhasil." Kata-kata Yukinoshita terasa begitu dingin. Tak terbantahkan jika kata-kata itu memang benar, hingga tak menyisakan ruang untuk mengelak.

Yuigahama kehilangan kata-kata. Pasti tak seorang pun pernah melontarkan kenyataan seperti itu padanya. Ekspresi panik dan kebingungan terlintas di wajahnya, hingga ia menutupinya dengan sebuah cengiran.

"Ta-tapi, eng... zaman sekarang sudah enggak ada lagi orang yang melakukan hal begini... sudah pasti itu enggak cocok buatku."

Seiring tawa malu-malu Yuigahama yang berangsur tersamar, terdengar suara berdenting dari cangkir yang diletakkan ke atas meja. Suaranya begitu tenang, terdengar pelan, dan masih bergemerincing pada lapisan kristalnya, yang secara tak sadar memaksa pandangan kami untuk tertuju ke arahnya. Ialah Yukinoshita, yang memancarkan hawa dingin ini, dan menghimpun aura di sekitarnya.

"...tolong berhenti untuk selalu menyesuaikan diri dengan sekelilingmu. Sungguh tak enak didengar. Apa kau tak malu membebankan sikap plinplan, ketidakmampuan serta kebodohan yang kaumiliki itu kepada orang lain?" Ujar Yukinoshita dengan nada keras. Ia jelas terlihat jengkel, sampai-sampai aku pun tersentak, hingga mau berseru, Wu-wuah...

Yuigahama yang tak berdaya, jatuh dalam keheningan. Ia menundukkan kepala hingga tak bisa lagi kulihat wajahnya, namun tangannya menggenggam erat ujung roknya seolah sedang menyingkap emosinya.

Pastinya ia orang yang cakap dalam berkomunikasi. Lagi pula, untuk dapat bergaul dengan anak-anak populer, penampilan menarik saja tidaklah cukup; kita harus bisa bersikap baik pada orang-orang. Dengan kata lain, perempuan ini memang pandai dalam menyesuaikan diri dengan orang lain. Yang juga berarti, ia tak punya cukup keberanian untuk menjadi dirinya sendiri, karena itu sangat beresiko baginya.

Akan tetapi, sementara Yuigahama menyesuaikan diri dengan sekelilingnya, Yukinoshita justru berusaha melangkah di jalannya sendiri. Ia memang orang yang keras kepala.

Mengingat kecenderungan mereka menjadi seorang penyendiri, mereka adalah dua tipe perempuan yang sangat berbeda. Jika kita membahas siapa yang lebih kuat, sudah jelas kalau itu Yukinoshita. Dari argumennya saja sudah terlihat.

Mata Yuigahama sudah berkaca-kaca.

"Lu-lu..."

Kurasa ia mau bilang, Lupakan saja kue keringnya. Suaranya yang parau dan terbata terdengar seperti sedang menangis. Karena bahunya yang gemetar, suaranya pun ikut gemetar.

"Luar biasa..."

"Hah?!" Tanggapku dan Yukinoshita dalam satu harmoni. Bicara apa perempuan ini? Tanpa sengaja kami pun saling bertukar pandang.

"Kau langsung berkata apa adanya... dan itu rasanya, sungguh... sangat keren..." Yuigahama menatap ke arah Yukinoshita dengan ekspresi menggebu-gebu. Wajah Yukinoshita menegang seiring ia mundur dua langkah ke belakang.

"Bi-bicara apa kau... apa kau tak dengar yang kukatakan tadi? Aku cukup yakin kalau kata-kataku tadi terdengar kasar."

"Enggak, kok! Sama sekali enggak!
Komentar (0)
1 2 >>
Download Java buku

»[LN] Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru
Perpustakaan
» Halaman utama «
» DAFTAR HADIR «
6 Aktif: ArsyadS, maik, Adit, Shadowgamersz, sinque, shinji_kuro.
Pengintip: 5
» MEMBER BARU «
jumarid jumarid
Malfoy13 Malfoy13

» Aoitenshi Fansub-Coder «

» Utamakan Kualitas Bukan Kuantitas Video «
© 2014 | JohmCMS