Minggu 25-Jun-2017 (08:45)
Selamat pagi tamu !!
Home | Masuk | Pendaftaran
Recommended Song by: fai-kun

Megumi Kato-ETERNAL♭(Ins. song eps.8 Saekano s2)
Downloaded: 666 times

Last forum activity:
naufalabid posted something in topic
MINAL AIDIN WAL FAIZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Join Group FB AoiTenshi
Like Fanspage AoiTenshi
Oregairu Jilid 1 Bab 3 Bagian 5
1 2 >>
Oregairu Jilid 1 Bab 3 Bagian 5
==================================================================================
Entah kenapa, ane merasa lucu sendiri sama kepolosannya Yui... Oiya, Namahage (生剥) adalah orang yang memakai kostum iblis guna menakut-nakuti anak-anak yang punya kelakuan buruk... Kalau begitu, saatnya membuat kue...
Selamat Menikmati...
==================================================================================
Bab 3 - Berulang Kali, Yui Yuigahama Bersikap Gelisah

Bagian 5


Ruang PKK kini sudah dilputi oleh aroma vanili. Yukinoshita membuka lemari pendingin, seakan ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya, lalu mengambil beberapa liter susu juga telur. Ia mengeluarkan timbangan dan sebuah mangkuk besar, kemudian menyiapkan beberapa butir telur, serta menggunakan bermacam peralatan memasak yang belum begitu kukenal.

Entah bagaimana, tampaknya manusia super sempurna ini juga sungguh hebat dalam hal memasak.

Setelah selesai dengan persiapan cepatnya tadi, ia kenakan celemeknya, seolah ingin menunjukkan kalau saat ini adalah waktunya memasak. Yuigahama pun ikut mengenakannya, namun sepertinya sudah kelihatan kalau ia belum pernah sekalipun mengenakan celemek; ia mengikat talinya dengan sembrono, sampai-sampai jadi kusut.

"Ikatan tali celemekmu kusut. Apa kau sungguh tak tahu caranya mengikat celemek?"

"Maaf. Terima kasih... eh, apa?! Kalau cuma mengikatnya saja, aku bisa, kok!"

"Kalau begitu, tolong ikat celemeknya dengan benar. Jika tidak, nanti kau bisa berakhir seperti anak itu – yang tak bisa kembali lagi ke titik balik hidupnya."

"Jangan menggunakanku sebagai contoh negatif. Memangnya aku ini Namahage?"

"Padahal ini pertama kalinya kau bisa tampak berguna bagi orang lain, harusnya kau sedikit senang... oh, tapi jangan cemas; meski kau membandingkan dirimu dengan Namahage, aku takkan mau macam-macam dengan kulit kepalamu, jadi tenang saja."

"Siapa juga yang cemas soal... hei, hentikan. Jangan pandang rambutku dengan senyum mencurigakan itu." Dengan maksud menghindar dari senyumnya – sebuah ekspresi yang biasanya tak pernah ia tunjukkan – kulindungi rambut ini dengan tanganku.

Kudengar tawa cekikik dari Yuigahama. Dan sudah ditebak, ia masih berusaha mengikat celemeknya sembari menyaksikan perdebatanku dengan Yukinoshita dari kejauhan.

"Jadi kau masih belum mengikatnya? Atau jangan-jangan kau memang tak bisa? ...ya ampun, ayo sini. Kubantu kau mengikatnya." Yukinoshita tampak frustasi, sekilas memberi isyarat pada Yuigahama.

"...ah, enggak apa-apa, kok." Gumam Yuigahama, menampakkan sedikit keraguan, dan bolak-balik melihat ke arahku dan ke arah Yukinoshita. Ia tampak seperti anak kecil yang sedang tersesat dan gelisah.

"Cepat sini." Nada bicara Yukinoshita yang dingin seakan menyingkirkan keraguan Yuigahama. Aku tak tahu apakah ia sedang marah atau tidak, yang pasti ia terlihat sedikit menakutkan.

"Ma-ma-ma-maaf!" Jawab Yuigahama dengan suara terpekik, lalu berjalan mendekat pada Yukinoshita. Memangnya ia anak anjing, apa?

Yukinoshita lalu bergerak ke belakang Yuigahama dan segera mengikat ulang tali celemek perempuan itu.

"Yukinoshita... rasanya kau jadi seperti kakakku saja, ya?"

"Yang jelas adikku takkan jadi separah dirimu." Yukinoshita mendesah dan tampak tak senang, namun entah kenapa, aku sebenarnya setuju dengan pemikiran Yuigahama.

Kalau melihat Yukinoshita yang dewasa bersanding dengan Yuigahama yang kekanak-kanakan, rasanya memang seperti sedang melihat pasangan kakak-beradik. Kalau dilihat lagi, memang terasa ada semacam jalinan kekeluargaan di antara mereka.

Di sisi lain, jika kebanyakan pria setengah baya menganggap bahwa perempuan akan tampak bagus bila mengenakan celemek tanpa memakai apa-apa di baliknya, justru menurutku akan terlihat sangat bagus jika ada seragam sekolah di balik celemek tersebut.

Saat membayangkannya, hatiku terasa begitu hangat dan tanpa sadar aku menyengir sendiri.

"He-hei, Hikki..."

"A-apa?" Suaraku terbata. Sial. Mungkin tampang di wajahku sempat terlihat menjijikkan tadi. Dan tanpa sengaja, jawaban gugupku malah menambah betapa jijiknya hal tersebut.

"Ba-bagaimana pendapatmu terhadap perempuan yang pandai memasak?"

"Bukannya aku tidak suka, sih. Bukan pula seolah para lelaki menganggap itu hal menarik."

"Be-begitu, toh..." Setelah mendengarnya, Yuigahama tersenyum lega. "Baiklah! Kita mulai sekarang!" Ia gulung lengan bajunya, memecahkan telur dan mulai mengocoknya. Lalu ditambahkannya tepung terigu, kemudian gula, mentega dan sedikit perisa, termasuk aroma vanili di dalamnya.

Meski aku bukan orang yang ahli dalam seni memasak, tapi bisa kulihat dengan jelas kalau kemampuan Yuigahama masih jauh dari normal. Aku yakin, bagi dirinya, membuat kue kering adalah hal yang berada di luar jangkauan. Padahal itu hal yang sangat sederhana, jadi bukan hal sulit untuk mengetahui seberapa jauh kompetensi dirinya dari standar normal. Kemampuan Yuigahama yang sebenarnya, tanpa ditutup-tutupi, telah terpampang jelas.

Yang pertama, kocokan telur. Masih ada cangkang yang ikut tercampur di dalamnya. Yang kedua, perisanya masih menggumpal. Yang ketiga, menteganya masih keras. Bisa ditebak, ia keliru mengganti tepung dengan garam, dan berlebihan menuang susu beserta aroma vanilinya hingga tumpah dari mangkuk.

Ketika sekilas pandanganku tertuju ke Yukinoshita, bisa kulihat wajahnya yang pucat sembari menaruh tangan di dahinya. Bahkan untuk juru masak payah sepertiku saja, sampai merinding. Apalagi Yukinoshita yang memang hebat dalam memasak, hal ini pasti sebuah aib besar.

"Sekarang kita perlu..." Yuigahama terhenti dan mengambil bubuk kopi.

"Kopi? Kukira itu untuk diminum, atau mungkin lebih mudah dicerna kalau dijadikan makanan, kali ya? Ide yang hebat."

"Eh? Bukan begitu. Justru ini bahan rahasianya. Anak lelaki enggak suka makanan manis, 'kan?" Wajah Yuigahama memerah sembari melanjutkan perkerjaannya. Dengan pandangan terfokus pada tangannya, adonan hitam segera terbentuk di tengah-tengah mangkuknya.

"Pastinya itu tak lagi jadi bahan rahasia."

"Waduh!? Ih. Biar nanti kutambahkan tepung saja supaya jadi lebih bagus." Nyatanya, ia cuma mengganti adonan hitam itu menjadi adonan yang lebih putih. Kemudian, gelombang besar dari kocokan telur mulai menyapu adonan tersebut, yang seakan menggambarkan kejinya neraka.

Biar kusimpulkan. Kemampuan memasak Yuigahama memang payah. Ini bukan tentang masalah mampu atau tidaknya – untuk kemampuan dasar saja ia tak punya. Sikap plinplannya di luar kewajaran, bahkan untuk melakukan hal yang mudah saja, ia gagal. Ia adalah orang yang tak ingin kujadikan partner saat tugas di laboratorium. Yang ada, ia cukup plinplan untuk membuat dirinya sendiri terbunuh.

Akhirnya benda itu pun selesai dipanggang, dan keluarlah kue panas yang terlihat gosong. Dari baunya saja bisa kutebak kalau rasanya pahit.

"Ko-kok bisa?" Yuigahama terpaku ngeri saat
Komentar (0)
1 2 >>
Download Java buku

»[LN] Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru
Perpustakaan
» Halaman utama «
» DAFTAR HADIR «
» Hadir (39 Orang) : . 9 more
» Pengintip : 3 Orang
» Ulang Tahun : 5 Orang
» CPU Usage : 3.02%
» MEMBER BARU «

» Aoitenshi Fansub-Coder «

» Utamakan Kualitas Bukan Kuantitas Video «