Senin 24-Jan-2017 (05:52)
Selamat pagi tamu !!
Home | Masuk | Pendaftaran
Aktifitas Forum Terbaru:
Oichi_ Menulis Sesuatu di Shiritori Chara Anime
Like FP AoiTenshi
Gabung Di Grup Facebook AoiTenshi
Oregairu Jilid 1 Bab 3 Bagian 2
1 2 3 >>
Oregairu Jilid 1 Bab 3 Bagian 2
==================================================================================
ビッチ (bitchi), kata serapan dari Bahasa Inggris yaitu 'bitch'. Tapi untuk kata tersebut, di Jepang konotasinya berbeda dengan arti kata sebenarnya dari Bahasa Inggris (yang berarti semacam pekerja seks komersial), dan lebih condong kepada perempuan yang gampang untuk diajak berhubungan seks dengan lawan jenis. Di sini sengaja memilih istilah 'bispak' (bisa dipakai), karena memang pengertiannya serupa, juga untuk pelokalan istilah... Dan クッキー (kukkii), kata serapan dari Bahasa Inggris 'cookie' (kue kering), dan terdengar seperti 空気 (kuuki) yang berarti udara...
Selamat Menikmati...
==================================================================================
Bab 3 - Berulang Kali, Yui Yuigahama Bersikap Gelisah

Bagian 2


Seperti biasa, Yukinoshita sedang asyik membaca bukunya.

Setelah saling bertukar salam, aku bergerak sedikit menjauh, kutarik sebuah kursi, kemudian duduk. Lalu kuambil sebuah buku dari dalam tasku.

Yang ada sekarang, Klub Layanan Sosial sudah berubah menjadi Klub Membaca Untuk Kawula Muda. Tapi kesampingkan dulu leluconnya... memangnya kegiatan apa yang pernah dilakukan klub ini? Lalu sebenarnya bagaimana kelanjutan dari pertandingan yang harus kami ikuti tempo hari?
(*Mungkin di kalimat ini Hachiman sedang menyinggung serial 青年のための読書クラブ (Seinen no Tame no Dokusho Club). yang bisa diartikan secara harfiah menjadi Klub Membaca Untuk Kawula Muda.)

Tak disangka, suara ketukan pintu menjawab pertanyaanku. Yukinoshita tertahan sewaktu membalik lembar bukunya, dengan sigap ia menaruh pembatas ke dalamnya.

"Silakan masuk." Jawabnya seraya mengahadap pintu.

"Per-permisi." Suara itu terdengar sedikit gelisah... gugup, mungkin? Pintu hanya bergeser sedikit, lalu seorang perempuan menyelipkan tubuhnya melalui celah kecil itu. Pasti ia tak mau jika sampai ada orang yang melihatnya masuk ke tempat ini.

Rambut coklatnya yang ikal dan sepanjang bahu itu berayun ketika ia berjalan. Tatapannya cemas menjelajahi sekitar ruangan. Lalu ketika pandangannya tertuju padaku, ia terhenyak.

...memangnya aku ini apa? Monster?

"Ko-kok ada Hikki di sini?!"

"...sebenarnya aku bagian dari klub ini."

Atau harusnya aku bilang saja, Kenapa kau memanggilku Hikki? Lalu yang terpenting, perempuan ini siapa?

Jujur, aku sungguh tak tahu, namun dari penampilannya, ia tampak seperti perempuan gaul kebanyakan — perempuan norak yang heboh di masa remajanya. Aku sering melihat perempuan sejenis ini. Rok pendek, tiga kancing blus yang terbuka, rambut yang disemir, dan kilauan kalung dengan liontin hati yang sengaja ia perlihatkan di sekitar dadanya. Penampilan tersebut benar-benar melanggar aturan sekolah.

Aku tak punya urusan dengan perempuan semacam itu. Nyatanya, aku memang tak punya urusan dengan perempuan mana pun.

Meski begitu, sikapnya menunjukkan seolah ia ada di lingkungan yang mengenalku. Aku ragu apakah tak apa jika kubilang, Maaf, kau ini siapa, ya?

Aku juga menyadari kalau pita yang tergantung di dadanya itu ternyata berwarna merah. Di sekolah kami, setiap angkatan dapat dikenali lewat warna pitanya. Pita berwarna merah menandakan kalau ia duduk di kelas 2 sama sepertiku.

...bukan berarti aku menyadari itu karena aku menatap dadanya. Soalnya jalur pandangku saat itu sedang tertuju ke sana... lagi pula, dadanya juga cukup besar, sih...

"Baiklah, untuk sementara duduk saja dulu." Dengan santai kutarik sebuah kursi dan mempersilakannya duduk. Perlakuan sopanku ini bukan bermaksud untuk menutupi rasa bersalah tadi. Wajar jika aku ingin memberi kesan baik padanya lewat sikap tulusku. Aku ini lelaki terhormat. Itu semua sudah tampak dari cara berpakaianku.

"Te-terima kasih..." Ia tampak kebingungan saat menanggapi tawaranku dan perlahan mulai duduk.

Yukinoshita yang duduk di hadapannya, mulai melakukan pendekatan. "Yui Yuigahama, bukan?"

"Ka-kau mengenalku?"

Si Yui Yuigahama ini langsung merasa senang, seakan-akan ada status tersendiri bagi orang-orang yang dikenali Yukinoshita.

"Kau pasti banyak tahu, ya... jangan-jangan kau tahu nama semua orang di sekolah ini?" Tanyaku.

"Tidak juga. Aku tak tahu kalau kau sekolah di sini."

"Begitu, toh..."

"Jangan berkecil hati; itu salahku. Akulah yang tak menyadari lemahnya hawa keberadaanmu, lagi pula, tak ada niat bagiku untuk berharap agar perhatianku tak tertuju padamu. Itu semua hanya karena lemahnya pikiranku saja."

"Jadi maksud dari kata-kata tadi hanya untuk membesarkan hatiku, begitu? Cara menghibur yang payah. Ujung-ujungnya, kau juga memberi kesimpulan kalau semua itu salahku."

"Aku tak bermaksud menghiburmu. Aku memang sedang menyindirmu." Ucap Yukinoshita sambil berpaling seraya mengibaskan rambutnya ke belakang.

"Kelihatannya... klub ini menyenangkan." Ujar Yuigahama dengan tatapan berbinar yang tertuju ke arah kami berdua.

Perempuan ini... pikirannya pasti hanya dipenuhi padang bunga matahari dan aster saja.

"Komentar barusan sama sekali tak mengenakkan... di sisi lain, kesalahpahamanmu itu benar-benar mengganggu." Tatapan dingin Yukinoshita membuat gugup Yuigahama.

"Oh, bukan, bagaimana bilangnya, ya?" Ia mengibaskan tangannya tanda menyangkal. "Aku hanya berpikir sikap kalian berdua begitu alami! Eng, maksudku, Hikki jadi berbeda sekali dengan yang di kelas. Ternyata ia bisa bicara panjang lebar."

"Jelas aku bisa bicara. Dasar kau ini..." Memangnya aku tampak seperti orang yang punya keterbatasan dalam berkomunikasi, apa?

"Oh, iya benar. Yuigahama juga duduk di kelas F."

"Hah, yang benar?" Tanyaku.

"Jangan-jangan kau memang tak pernah tahu, ya?" Yukinoshita balik bertanya.

Yuigahama tampak terkejut oleh ucapan Yukinoshita.

Sial.

Tak ada yang paham bagaimana sakitnya tak dikenali oleh teman sekelas lebih dari aku. Karenanya, sebelum ia ikut merasakan sakit yang sama, kucoba untuk menutupi salah paham tadi.

"Ten-tentu saja aku tahu."

"...lalu kenapa kau memalingkan mata?" Tanya Yukinoshita.

Yuigahama kemudian menatapku dengan pandangan sinis. "Bukannya karena itu kau jadi enggak punya teman, Hikki? Habisnya, tingkahmu itu aneh dan rasanya menjijikkan."

Kini aku ingat perempuan sinis ini. Tentu saja, para perempuan lain di kelasku juga memandang hina diriku. Pasti ia salah satu dari kelompok yang sering bergerombol di sekitar Klub Sepak Bola.

Apa-apaan itu? Berarti ia salah satu musuhku, dong? Percuma saja tadi aku bersikap baik padanya.

"...dasar bispak." Tanpa sengaja aku mengumpat.

"Apa? Siapa yang kausebut bispak?!" Yuigahama spontan berseru. "Aku ini masih pera— aaahhh! Lupakan!" Wajahnya langsung memerah dan ia bolak-balik mengibaskan tangan, seakan ingin berusaha menarik kembali kata-katanya. Dasar plinplan.

http://u.cubeupload.com/naufalabid/YahariOreNo085.png

Yukinoshita mulai bicara, seolah ingin meredakan kepanikan
Komentar (0)
1 2 3 >>
Download Java buku

»[LN] Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru
Perpustakaan
» Halaman utama «
» DAFTAR HADIR «
» Hadir (48 Orang) : . 18 more
» Pengintip : 10 Orang
» Ulang Tahun : 3 Orang
» CPU Usage : %
» MEMBER BARU «

» Aoitenshi Fansub-Coder «

» Utamakan Kualitas Bukan Kuantitas Video «