Jum'at 18-Aug-2017 (06:26)
Selamat pagi tamu !!
Home | Masuk | Pendaftaran
Recommended Song by: Fadli_Ramdani

ZAQ - Caste Room
Downloaded: 165 times

Last forum activity:
subaru posted something in topic
Kabar Duka

Join Group FB AoiTenshi
Like Fanspage AoiTenshi
Oregairu Jilid 1 Bab 3 Bagian 1
1 2 >>
Oregairu Jilid 1 Bab 3 Bagian 1
==================================================================================
Pembuka Bab 3... Dari sini akhirnya baru ane tahu, alasan di balik kenapa Yui yang jadi klien pertama Klub Layanan Sosial... Betewe, Hachiman memang berwawasan luas...
Selamat Menikmati...
==================================================================================
Bab 3 - Berulang Kali, Yui Yuigahama Bersikap Gelisah

Bagian 1


"Biar Ibu tebak, jangan-jangan kau punya trauma saat di pelajaran Tata Boga, ya?"

Sudah kuserahkan makalah untuk mata pelajaran PKK sebagai pengganti absenku saat di pelajaran Tata Boga, namun entah kenapa aku masih saja dipanggil ke ruang guru.

Rasanya ini lebih mirip déjà vu saja. Kenapa yang menceramahiku justru Bu Hiratsuka?

"Maaf, Bu, bukannya Ibu ini guru Bahasa Jepang?"

"Ibu merangkap sebagai guru BK di sini. Bu Tsurumi yang memberi wewenang pada Ibu untuk menyelesaikan masalah ini."

Kulihat Bu Tsurumi sedang asyik menyiram bunga penghias di pojok ruangan. Bu Hiratsuka pun sejenak memandang beliau sebelum mengarahkan pandangannya kembali padaku.

"Pertama, Ibu mau dengar alasanmu bolos dari pelajaran Tata Boga. Jelaskan dengan singkat."

"Yah, saya hanya tak habis pikir kenapa dalam pelajaran Tata Boga saya mesti kerja berkelompok dengan murid lain..."

"Hikigaya, jawabanmu itu tak masuk akal. Apa sesakit itu kenanganmu saat kerja berkelompok? Atau jangan-jangan tak ada yang mau mengajakmu berkelompok?" Bu Hiratsuka memandangku, berlagak seolah cemas.

"Jelas tidak. Bu Hiratsuka ini bicara apa? Ini kan cuma tentang pelatihan memasak dalam pelajaran Tata Boga. Artinya, pelatihan semacam ini tak berguna jika diterapkan dalam kehidupan nyata. Contohnya ibu saya. Beliau bisa memasak karena belajar sendiri. Dengan kata lain, memasak adalah hal yang harus dipelajari sendiri! Sebaliknya, menghubungkan antara pelatihan memasak dengan kerja berkelompok adalah hal yang keliru!"

"Hal yang kaubicarakan tadi jelas berbeda dengan yang Ibu maksud."

"Maaf, Bu! Jadi Bu Hiratsuka mau bilang kalau ibu saya salah?! Sungguh keterlaluan! Sudahlah, tak ada yang perlu dijelaskan lagi! Saya mau keluar!" Jawabku seraya berpaling pergi.

"Hei! Jangan buat seolah Ibu yang jahat di sini, terus kau mencak-mencak tak keruan begitu padahal Ibulah yang harusnya marah!"

...rencanaku gagal, ya? Soalnya Bu Hiratsuka langsung merentangkan lengannya dan menarik bagian belakang kerah bajuku. Untuk beberapa saat wajah kami saling berhadapan, dan beliau menggantung kerahku layaknya mengangkat seekor anak kucing. Sial. Andai saja saat itu kujawab, Salah, toh? Saya ini bodoh banget, ya? Sambil menjulurkan lidah keluar, mungkin saja aku tak bakal jadi begini.

Beliau lalu menghela napas dan menepuk lembar makalahku dengan bagian belakang tangannya.

"Cara Membuat Kari Yang Lezat — untuk bagian ini tak ada masalah. Justru bagian setelah ini yang jadi masalahnya. 1. Potong bawang merah secara melintang, lalu iris tipis dan bumbui. Irisan tipis bawang merah akan mudah meresap dengan bumbu, sama halnya orang awam yang gampang terpengaruh dengan sekitarnya... kenapa hal itu malah kaucampur dengan sarkasme? Harusnya itu kaucampur dengan daging." (*Huruf kanji untuk kata sarkasme adalah įšŪ肉 (hiniku) yang di dalamnya memuat huruf kanji 肉 (niku) yang berarti daging. Sehingga pada kalimat tersebut, Bu Hiratsuka memang sengaja bermain kata-kata.)

"Maaf, Bu, tolong berhenti bermain kata-kata... saya yang mendengarnya pun jadi ikut malu."

"Meski Ibu sudah tak ada niat lagi untuk membacanya. Paling-paling kau sudah tahu kalau Ibu bakal menyuruhmu untuk mengerjakan ulang." Bu Hiratsuka benar-benar terlihat sangar ketika sebatang rokok terhimpit di antara bibirnya.

"Memangnya kau bisa masak?" Tanya Bu Hiratsuka. Ekspresi beliau tampak sedikit kaget sewaktu membalik makalahku.

Pernyataan tersebut sudah terlalu melecehkan. Murid SMA zaman sekarang setidaknya sudah bisa memasak kari sendiri.

"Bisa, dong. Jika mempertimbangkan rencana masa depan, tentu saja saya bisa."

"Jadi maksudmu, kau sudah di umur yang wajar untuk hidup sendiri, begitu?"

"Bukan, bukan itu alasannya."

"Eh?" Tampang beliau seakan ingin bertanya, Lalu, apa?

"Soalnya, memasak adalah keahlian yang wajib dikuasai oleh bapak rumah tangga."

Setelah mendengar jawabku, beliau lalu mengedipkan mata bulatnya yang digarisi dengan maskara itu sekitar dua sampai tiga kali.

"Oh, kau mau jadi bapak rumah tangga, toh?"

"Ya begitu, deh, itu salah satu pilihan..."

"Setidaknya hentikan dulu tatapan mesummu itu selagi kau bicara tentang impian. Kalau mau membahas hal tersebut, harusnya kau menatap dengan mata penuh harap... Ibu cuma mau tahu saja, kok. Memangnya seperti apa sih rencanamu terhadap masa depan?"

Mungkin bukan ide bagus jika aku menjawab, Harusnya Ibu lebih khawatir tentang masa depan Ibu sendiri. Karena itu aku memilih untuk mengalah dengan memberi jawaban logis.

"Yah, saya akan coba berkuliah di perguruan tinggi mana pun yang mau menerima saya."

"Oh, begitu." Bu Hiratsuka mengangguk, isyarat setuju akan jawabanku. "Lantas, selesai kuliah kau mau cari kerja apa?"

"Akan saya cari wanita cantik nan terpandang untuk dinikahi, jadi wanita tersebut bisa selalu mendukung saya hingga akhir hayat nanti."

"Yang Ibu tanya itu kerja! Jawab dengan spesifik!"

"Bukannya tadi sudah saya bilang? Bapak rumah tangga."

"Kalau seperti itu, hidupmu malah tak jauh beda seperti gigolo! Sebuah cara hidup yang mengerikan untuk dijalani. Mereka menyinggung tentang masalah pernikahan pada pasangan mereka, lalu tanpa disadari mereka sudah tinggal dalam satu rumah, bahkan mereka membuat kunci duplikat dan mulai menaruh barang-barang mereka ke dalam rumah pasangannya. Lalu ketika saatnya mereka berpisah, tanpa tanggung-tanggung mereka ikut membawa pergi perabotan pasangannya seperti gelandangan yang sedang menjarah toko!" Cerocos Bu Hiratsuka, yang tanpa sadar menguak rahasianya sendiri dengan begitu detail. Sambil menggebu-gebu beliau menceritakan hal tersebut, air matanya pun berlinang.

Sungguh kasihan aku melihat beliau... sampai-sampai aku ingin menghiburnya.

"Tenang saja, Bu! Saya takkan mungkin seperti itu. Saya tetap akan mengurus segala urusan rumah tangga dan menjadi gigolo terbaik yang pernah ada!"

"Teori Superstring gila macam apa itu?!"
(*Teori Superstring merupakan teori untuk menyelesaikan masalah dimensi dalam ilmu fisika, karena saat terjadi Big Bang sewaktu semesta kita terbentuk, diketahui bahwa terdapat sepuluh dimensi dalam semesta kita, padahal saat ini kita hidup dalam empat dimensi. Dalam teori ini lintasan dimensi digambarkan sebagai string (tali) dengan panjang tak terhingga. Karena adanya dimensi yang lebih dari empat itulah kemudian muncul angan-angan ilmuwan untuk bisa pergi sejauh ribuan hingga jutaan tahun cahaya dalam waktu singkat, yaitu dengan cara lintas dimensi.)
Komentar (0)
1 2 >>
Download Java buku

»[LN] Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru
Perpustakaan
» Halaman utama «
» DAFTAR HADIR «
19 Aktif: dimaru!, Re, Luchs_Kobayashi, renthyme, vignette, Kuhaku, mugiwara, Hambru, Kamui, herboy651, himura-san, ravianwar, kuroba, sephireDD, Entahlah, Shinigami, mikazuki!, odanggo, malibary98.
Pengintip: 13
» MEMBER BARU «
dkristianto1 dkristianto1
rika rika

» Aoitenshi Fansub-Coder «

» Utamakan Kualitas Bukan Kuantitas Video «
© 2014 | JohmCMS