Selasa 17-Oct-2017 (14:45)
Selamat siang tamu !!
Home | Masuk | Pendaftaran
Recommended Song by: Monika

Doki Doki Literature Club! OST - Your Reality
Downloaded: 35 times

Last forum activity:
Kamui posted something in topic
Mobile Legends Bang Bang 5vs5 Fair MOBA for Mobile 3 Lane

Join Group FB AoiTenshi
Like Fanspage AoiTenshi
Oregairu Jilid 1 Bab 1 Bagian 5
1 2 3 >>
Oregairu Jilid 1 Bab 1 Bagian 5
==================================================================================
Penutup dari Bab 1... Di sini dijelaskan, kalau yang membawa klien-klien ke Klub Layanan Sosial nantinya adalah Bu Hiratsuka sendiri... Klien-klien tersebut digambarkan sebagai domba-domba tersesat... Oiya, biasanya di setiap penutup Bab, pasti ada monolog khusus dari Hachiman... Bahkan terkadang, bisa jadi kutipan yang bagus... Dan di Bagian ini, monolognya cukup menusuk...
Selamat Menikmati...
=================================================================================
Bab 1 - Biar Bagaimanapun, Hachiman Hikigaya Memang Busuk

Bagian 5


"Yukinoshita. Ibu masuk, ya."

"Tolong kalau Ibu mau masuk, ketuk du—"

"Iya, iya. Jangan diambil hati, lanjutkan saja. Ibu cuma mampir memeriksa keadaan."

Bu Hiratsuka menyandarkan badannya ke tembok sambil melemparkan senyum pada Yukinoshita. Lalu beliau pun kembali mengarahkan pandangannya pada kami berdua.

"Wah, wah, tampaknya kalian sudah akrab." Bisa-bisanya beliau berkesimpulan begitu? "Hikigaya, tetap semangat, ya. Tetap fokus pada program rehabilitasi sikap menentangmu dan juga penyembuhan mata busuk milikmu itu. Ibu mau balik dulu. Jaga diri kalian saat pulang nanti, ya."

"Eh, eh, tunggu dulu!"

Spontan kugenggam tangan Bu Hiratsuka agar beliau tak pergi. Namun tiba-tiba—

"Aduh! Aduh-duh-duh! Ampun! Ampun, Bu, saya menyerah!"

Tahu-tahu lenganku sudah terkunci. Setelah meronta-ronta dan memohon ampun, beliau akhirnya melepaskanku.

"Oh. Rupanya kau toh, Hikigaya. Jangan tiba-tiba berdiri di belakang Ibu, dong .... Ibu jadi refleks, deh."

"Memang Ibu ini Golgo, apa? Lagi pula, apanya yang refleks? Jangan langsung tiba-tiba begitu, dong!"

"Bukannya kau yang mulai duluan? ... memangnya ada masalah apa?"

"Ya, Ibu itu sumber masalahnya .... Terus, apa maksud Ibu dengan program rehabilitasi? Itu malah terdengar seolah-olah saya ini anak bermasalah, ya 'kan? Sebenarnya ini tempat apa, sih?"

Bu Hiratsuka memegang dagunya sejenak.

"Yukinoshita sudah menjelaskannya padamu, 'kan? Intinya, tujuan utama klub ini adalah membantu mengatasi permasalahan seseorang dengan cara mendorongnya agar berkembang. Anggap saja tempat ini seperti Ruang Jiwa dan Waktu. Atau gampangnya, seperti cerita dalam Shoujo Kakumei Utena itu, lo."

"Ilustrasi yang Ibu berikan malah tambah bikin bingung ..., secara tak langsung malah memberi tahu berapa usia Ibu."

"Kau tadi bilang apa?"

"... eh, bukan apa-apa."

Aku langsung mengecilkan suaraku, mencoba menghindar dari tatapan dingin Bu Hiratsuka. Beliau lalu menghela napasnya sembari mengamatiku.

"Yukinoshita, kelihatannya program rehabilitasimu menemui kesulitan."

"Itu semua karena ia tak sadar kalau pada kenyataannya dirinya sendiri bermasalah." Dengan ketus Yukinoshita menjawab.

Rasanya aku tak sanggup berada di tempat ini lebih lama lagi. Ini terasa seperti ketika orang tuaku menemukan koleksi majalah porno milikku sewaktu aku masih kelas 6 SD, yang membuat mereka menceramahiku habis-habisan kala itu.

Tapi jika kupikir lagi, mungkin ini tak sampai seburuk itu.

"Maaf, ya .... Dari tadi kau dan Bu Hiratsuka membahas tentang program rehabilitasi, lalu pengembangan diri, lalu revolusi, lalu gadis revolusioner, lalu apalah lagi itu namanya, padahal tak sekalipun aku pernah meminta hal tersebut ...."

"Hmm ...." Bu Hiratsuka memiringkan kepalanya karena tak mengerti.

"Kau ini bicara apa?" tegas Yukinoshita. "Jika kau tak bisa berubah, nantinya kau akan kesulitan dalam bergaul."

Tampak dari wajahnya jika pendapat yang ia lontarkan itu seolah menyiratkan hal seperti, Tak ada gunanya berperang, jadi buang semua senjatamu.

"Sudah terlihat kalau sisi kemanusiaanmu itu benar-benar rendah bila dibandingkan orang lain. Apa kau tak pernah terpikir ingin mengubah sisi tersebut?"

"Bukan begitu .... Hanya saja, aku tak mau orang lain terus memaksaku agar berubah, memaksaku supaya sadar akan diriku sendiri. Lagi pula, jika akhirnya aku berubah karena nasihat orang lain, maka aku takkan bisa jadi diriku sendiri, ya 'kan? Dikatakan jika sebuah jati diri—"

"Hal tersebut tak bisa dilihat dari pendapat satu orang saja."

Usahaku agar terlihat hebat dengan mengutip ucapan Descartes, justru langsung disela oleh Yukinoshita .... Padahal aku sedang mengatakan hal yang lumayan keren.

"Yang kaulakukan hanyalah lari dari masalah. Jika kau masih belum berubah, kau takkan bisa maju."

Ucapan Yukinoshita terasa sangat menusuk. Kenapa ia harus selalu bersikap kasar begitu? Memangnya orang tuanya itu kepiting, apa?

"Memangnya kenapa kalau aku lari dari masalah? Kau sendiri dari tadi hanya terus-menerus menyuruhku untuk berubah. Lagi pula, memangnya kau bisa menghadap matahari dan berkata, Hei, Matahari, Kau terlalu lama terbenam di barat dan orang-orang jadi terganggu, jadi mulai sekarang terbenam saja di timur. Begitu?"

"Kau melantur. Tolong jangan menyimpang dari pokok permasalahan. Bukan matahari yang bergerak mengelilingi bumi, melainkan bumi yang bergerak mengelilingi matahari. Kau tak pernah tahu Teori Heliosentris, ya?"

"Itu hanya perumpamaan! Kalau kaubilang aku melantur, berarti ucapanmu selama ini juga melantur, dong. Bila aku akhirnya berubah, berarti sama saja aku lari dari masalah, ya 'kan? Lalu untuk apa kau menyuruhku agar tak lari dari masalah? Kalau memang aku tak berniat mau lari dari masalah, maka aku takkan mengubah diriku yang sekarang. Lagi pula, kenapa kau tak bisa menerima apa adanya diriku ini?"

"Jika seperti itu ..., maka permasalahan ini tak bisa terselesaikan dan tak seorang pun bisa diselamatkan."

Seiring kata-kata yang terlontar dari mulut Yukinoshita, ekspresi wajah yang ia tampakkan sudah seperti orang yang sedang naik pitam. Tak sengaja diriku tersentak. Mungkin saja aku sudah siap meminta maaf dan langsung berkata, Ma-ma-ma-maaf, ya!. Bicara soal itu, yang ia katakan tadi bukanlah hal yang biasa dibicarakan oleh murid-murid SMA. Aku hanya tak mengerti alasan ia berbuat sampai sejauh ini.

"Kalian berdua tenanglah dulu," suara Bu Hiratsuka mulai menenangkan suasana, atau sebaliknya, malah membuat suasana jadi lebih tak mengenakkan. Bahkan beliau sekilas menyengir menampakkan harapan dan kegembiraannya.

"Hal ini mulai semakin menarik. Ibu suka perkembangan yang seperti ini. Terasa JUMP banget, deh. Ya 'kan?"

Entah kenapa hanya Bu Hiratsuka saja yang merasa antusias. Daripada disebut sebagai wanita dewasa, tatapan beliau lebih seperti seorang anak kecil.

"Sejak zaman dahulu kala, ketika dua pihak saling beradu mengatasnamakan keadilan, maka dalam shounen manga mereka akan menyelesaikan permasalahannya itu dengan cara bertanding."

"Tapi kita kan tak sedang di dalam shounen manga ...." Tak ada yang memerhatikanku bicara.

Beliau pun tertawa sembari mengalihkan pandangannya ke arahku dan Yukinoshita, kemudian memberi pengumuman dengan
Komentar (0)
1 2 3 >>
Download Java buku

»[LN] Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru
Perpustakaan
» Halaman utama «
» DAFTAR HADIR «
8 Aktif: saaya, Adit, ArsyadS, School_days, maik, sinque, shinji_kuro, Shadowgamersz.
Pengintip: 5
» MEMBER BARU «
jumarid jumarid
Malfoy13 Malfoy13

» Aoitenshi Fansub-Coder «

» Utamakan Kualitas Bukan Kuantitas Video «
© 2014 | JohmCMS