Sabtu 25-Feb-2017 (20:36)
Selamat malam tamu !!
Home | Masuk | Pendaftaran
Aktifitas Forum Terbaru:
SeeJay Menulis Sesuatu di Sambung kata Member 3rd Season
Like FP AoiTenshi
Gabung Di Grup Facebook AoiTenshi
Oregairu Jilid 1 Bab 1 Bagian 2
1 2 >>
Oregairu Jilid 1 Bab 1 Bagian 2

==========================================================
Penggambaran sosok Yukino Yukinoshita di Bagian ini rasanya dalam banget... Oiya, 'lola' (loading lambat) adalah pelokalan makna dari 'nubouttoshita' (ぬぼうっとした) untuk menggambarkan sosok Hikigaya, yang artinya 'bengong' atau 'tampak linglung'... Untung ketemu istilah yang pas, dan terdengar seperti nama permen... Satu lagi, mungkin belum ada yang tahu apa itu riajuu... Riajuu adalah orang-orang yang diberkahi oleh 'sempurna'nya masa remaja mereka, kehidupan pergaulan riajuu bahkan menjadi tolak ukur anak-anak populer... Singkatnya, mereka kebalikan atau bisa dibiliang musuh sejati para otaku, chuunibyou dan hikikimori...
Selamat Menikmati...
==========================================================


Bab 1 - Biar Bagaimanapun, Hachiman Hikigaya Memang Busuk

Bagian 2


Gedung sekolah SMA Soubu di Kota Chiba ini mempunyai gaya bangunan yang sedikit berbeda dari lainnya. Bila dilihat dari atas, kurang lebih bentuknya agak mirip dengan huruf kanji 口 (kuchi) yang berarti mulut — berbentuk seperti bujur sangkar — tapi mungkin lebih mirip dengan huruf katakana untuk suku kata ロ (ro) — bujur sangkar dengan beberapa garis yang keluar dari sudut sisinya. Lalu sepasang kaki pada bujur sangkar itu adalah gedung audio visual yang melengkapi pemandangan lansekap sekolah kami. Gedung untuk kelas mengajar menghadap ke jalan raya, sementara paviliunnya menghadap ke arah sebaliknya. Jembatan yang menghubungkan dua bangunan tersebut terletak di lantai dua, yang kesemuanya membentuk pola seperti bujur sangkar.

Gedung sekolah ini mengapit sebuah tempat di keempat sisinya, sebuah halaman terbuka yang diperuntukkan sebagai tanah suci para riajuu. Di tempat itu, mereka — baik anak lelaki maupun perempuan — saling berbaur satu sama lain saat jam istirahat makan siang. Dilanjutkan bermain bulutangkis untuk melancarkan pencernaan. Sepulang sekolah, dengan ditemani remangnya matahari senja, beberapa pasang kekasih saling melontar ucapan gombal sambil memandang bintang-bintang seiring desiran angin laut yang menyelimutinya.

Alamak.

Dari sudut pandang orang luar, mereka sudah terlihat seperti para pemeran drama remaja yang berusaha tampil maksimal lewat perannya. Memikirkannya saja membuatku merinding. Andai aku ikut serta pun, paling-paling aku memilih peran sebuah pohon atau semacamnya.

Bu Hiratsuka menyusuri sepanjangan lantai linoleum itu tanpa berucap sepatah kata pun, langkah kakinya beriring menuju ke paviliun.

Aku punya firasat buruk tentang ini.

Terlebih lagi, tampaknya belum ada kejelasan mengenai seperti apa kegiatan Klub Layanan Sosial.

Yang kutahu, Layanan Sosial bukanlah seperti kegiatan yang biasanya dilakukan sehari-hari; sebaliknya, ini seperti layanan yang disediakan dalam situasi-situasi tertentu. Contohnya, seorang pelayan yang melayani sang majikannya. Dalam kasus ini, layanan bisa berupa ucapan, Selamat datang! yang bisa membuat perasaan sang majikan jadi menggebu-gebu hingga bisa menyerukan, Lets'a party!

Tapi di kenyataannya, hal itu takkan mungkin terjadi. Tunggu. Sebenarnya itu bukan hal mustahil asal ada kesepakatan harga sebelumnya. Tetapi jika segalanya bisa dibeli dengan uang, berarti mimpi dan cita-cita sudah tak berlaku lagi di dunia yang busuk ini. Biar bagaimanapun, yang namanya Layanan bukanlah hal yang baik.

Lalu yang ada sekarang, kami sudah berada di paviliun. Sudah pasti aku bakal disuruh beres-beres di sana, seperti memindahkan piano ke ruang musik, membuang limbah sisa-sisa laboratorium biologi, menyusun koleksi katalog perpustakaan, dan sebagainya. Kalau memang begitu, berarti aku harus sesegera mungkin mengambil langkah antisipasi.

"Asal Ibu tahu, saya punya penyakit kronis di sekitar selangkangan, lo. Kalau enggak salah namanya ... Her-Her-Herpes, ya? Iya, itu ...."

"Jika yang kaumaksud itu Hernia, tak usah khawatir. Ibu tak melibatkanmu dalam pekerjaan kasar, kok."

Beliau menoleh ke belakang sambil menatapku dengan ekspresi mengejek, layaknya sedang melihat orang bodoh.

Aku paham. Berarti kegiatan yang dimaksud itu semacam penelitian atau pekerjaan administrasi, 'kan? Jika benar, maka kegiatan tersebut justru lebih sulit ketimbang kerja fisik. Siksaan ini ibarat seperti keluar dari kandang singa, masuk ke kandang buaya.

"Penyakit ini kadang kambuh ketika saya memasuki ruang kelas, Bu."

"Kau kok sekarang justru terdengar seperti sniper berhidung panjang, ya? Memangnya kau ini anggota Bajak Laut Topi Jerami?"

Oh, ternyata beliau juga senang membaca shounen manga, ya?

Terserahlah. Selama bisa mengerjakannya, akan kukerjakan sendiri. Aku bisa mengubah diriku ini layaknya sebuah mesin. Takkan jadi masalah andai kutiadakan hasrat manusiawiku. Kalau perlu, aku bisa menjadi sebuah sekrup.

"Kita sudah sampai."

Ruangan di mana Bu Hiratsuka menghentikan langkahnya ini, dari luar sudah terlihat tak biasa. Tak ada tulisan apa pun yang tertera pada pelat pintunya. Selagi kutatap pelat tersebut dengan penuh keheranan, tiba-tiba saja Bu Hiratsuka menggeser pintu untuk membukanya. Meja dan bangku tertumpuk rapi di pojok ruangan. Mungkin ini dulunya gudang. Jika dibandingkan dengan ruang kelas lainnya, tak ada yang tampak istimewa dengan isi di dalamnya. Tak lebih, ini hanyalah ruang kelas biasa. Meski begitu, yang sangat jelas berbeda dari segala yang ada di ruangan ini, adalah sosok seorang gadis.

Gadis itu membaca bukunya sembari dibalut sinar senja. Pemandangan itu tampak bagai sebuah ilusi maupun adegan dalam sebuah lukisan. Seolah ia akan tetap duduk di sana sambil membaca, meski dunia ini berakhir.

Saat melihatnya, tubuh maupun jiwaku serasa membeku.

Tak sengaja aku merasa kagum karenanya.

http://3.bp.blogspot.com/-AnM0Hss9y48/UrUOd2s2NYI/AAAAAAAAAFQ/CbL-AgVRZXs/s400/YahariOreNo-029.png

Menyadari ada yang datang, ia pun menyelipkan pembatas buku pada bacaannya lalu menengadahkan kepalanya menghadap kami.

"Bu Hiratsuka. Saya yakin sudah memberitahu Ibu untuk mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk."

Ciri yang dimilikinya begitu menarik. Rambut hitamnya panjang menjuntai. Meski saat di sekolah ia mengenakan seragam perempuan pada umumnya, namun ia seakan berada dalam golongannya sendiri.

"Kau juga tak merespon meski sudah Ibu ketuk."

Tampak ada kesan tak puas saat ia mendengar jawaban Bu Hiratsuka tadi.

"Lalu, siapa anak yang tampak lola yang bersama Ibu itu?"

Tatapan dinginnya tertuju padaku.

Aku tahu perempuan ini.

Yukino Yukinoshita dari Kelas 2-J.

Tentu saja aku hanya tahu nama dan wajahnya. Kami tak pernah terlibat pembicaraan sebelum ini. Sebuah kejadian langka jika aku bisa terlibat pembicaraan dengan orang-orang di sekolah, itu sebabnya, mustahil bila hal tersebut sampai terjadi.

Di SMA Soubu, terpisah dari sembilan kelompok kelas biasa, ada satu kelompok kelas yang ditujukan untuk murid berbakat dengan standar internasional
Komentar (0)
1 2 >>
Download Java buku

»[LN] Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru
Perpustakaan
» Halaman utama «
» DAFTAR HADIR «
» Hadir (44 Orang) : . 14 more
» Pengintip : 8 Orang
» Ulang Tahun : 2 Orang
» CPU Usage : %
» MEMBER BARU «

» Aoitenshi Fansub-Coder «

» Utamakan Kualitas Bukan Kuantitas Video «