Kamis 19-Jan-2017 (13:27)
Selamat siang tamu !!
Home | Masuk | Pendaftaran
Aktifitas Forum Terbaru:
Oichi_ Menulis Sesuatu di Shiritori Chara Anime
Like FP AoiTenshi
Gabung Di Grup Facebook AoiTenshi
Bab 1 Pahlawan dari Masa Lalu
1 2 3 >>
BAB 01 – Pahlawan dari Masa Lalu
Bagian 01 – Kau yang Berasal Dari Masa Lalu



Dua tahun lebih enam bulan telah berlalu semenjak Last War. Kemajuan teknologi selama dua tahun lebih enam bulan meningkat pesat. Bagaikan roket yang meluncur ke atas menembus awan.

Sihir saat ini sudah modern. Tidak seperti dulu, yang perlu mantra panjang untuk mengaktifkan sihir. Praktis, mungkin itu gambaran sihir zaman sekarang. Cepat dan mudah digunakan dalam keadaan terdesak.

Setelah perang yang besar, sekolah sihir mulai didirikan di setiap kerajaan yang berada di empat benua besar. Sekolah tersebut dibangun untuk melatih para penyihir muda agar menjadi kuat dan berguna bagi masyarakat serta kerajaan. Namun sekolah biasa juga ada, karena tidak semua orang yang lahir di dunia ini bisa memakai sihir.

Mereka yang dapat menggunakan sihir dinamakan Enchanter. Enchanter umumnya hanya memiliki satu atau dua tipe sihir di dalam tubuh, namun ada beberapa orang yang dapat menggunakan tiga tipe sihir dengan menggabungkan dua tipe sihir yang dimiliki menjadi tipe sihir yang baru. Mereka yang memiliki keistimewaan tersebut diberi julukan Paladin.

Pukul 08:30.

Kota Birght, Ibukota kerajaan Et’Aria. Seperti hari biasa, Suasana damai menyelimuti kota Birght, alun–alun kota selalu ramai akan para pedagang dan rakyat. Tawa dan senyuman menghiasi setiap sudut kota tersebut. Lukisan langit cerah membentang luas seakan menambah nilai tambah di kota tersebut.

Tapi, hari ini suasana damai tersebut tidak berlangsung lama. Mungkin karena kehadiran orang mencurigakan, yang membuat suasana damai hilang. Seperti sinar matahari yang tertutupi oleh awan mendung, gelap dan dingin.

Orang tersebut mengenakan jubah hitam dengan tudung yang menutupi wajahnya. Aura gelap yang ia keluarkan seakan menambah nuansa menakutkan pada dirinya. Wajar saja bila orang-orang takut padanya, dan mulai menjauh.

“Hadeh. Sebegitu takutnya pada orang asing, ternyata semua telah banyak berubah. Ckckck.”Pemuda misterius tadi hanya menggeleng-geleng kecil kepalanya dan diteruskan desahan panjang.

TAP!

Entah kenapa, langkah kaki pemuda tersebut tiba-tiba saja berhenti di tengah jalan. Hidungnya yang tertutup bayangan mulai bergerak-gerak kecil. Nampaknya ia sedang mencium bau yang menarik perhatiannya hingga ia harus berhenti sejenak.

“Hmm, bau apa ini??”

Dengan mengandalkan hidungnya, ia mencoba untuk mencari tahu sumber bau yang baru saja ia hirup. Kakinya mulai melangkah mengikuti arah bau itu berasal.

Setelah mengikuti arah bau tersebut, kini ia telah berdiri di depan toko makanan yang sedang dipenuhi pelanggan.

“… <Warung Sate Pak Jazim>?”

Pemuda tersebut bergumam sambil melihat tanda dari toko tersebut.

“Selamat datang!!”

Dengan seyum ramah, laki-laki yang kira-kira umurnya sudah tigapuluh tahun menyambut pemuda tersebut, sembari kedua tangannya sIbuk membolak-balikkan satenya agar tidak gosong. Laki-laki tersebut adalah pemilik warung makan tersebut.

“Anda tidak takut kepada saya??”

Pemuda tersebut nampak binggung dengan situasi saat ini.

“Hahahaha. Kau bisa ngelawak juga.” Pemilik toko makanan tersebut hanya tertawa menanggapi pertanyaan pemuda tersebut dengan tangannya yang terus membolak–balikkan satenya yang berada di atas tungku pembakaran yang sedang menyala. “Manamungkin ada seorang penjual yang mengabaikan pembelinya, iyakan??” Lanjutnya.

“Hehe.” Pemuda misterius itu lantas tertawa sembari tangan kanannya menggaruk pelan kepalanya.

“Jadi, kau mau pesan berapa. Pemuda yang misterius??”

“Nama aku Shintaro, Paman.” Gerutu Shintaro kepada pemilik warung.

“Aku pesan sepuluh tusuk saja, Paman.” Lanjutnya.

“Oke, Shintaro. Tolong jangan panggil aku Paman, aku juga punya nama. Namaku Jaim, Jaim Mustofa Bin Mustahil.”

“Eh??” Shintaro kaget, seperti ada yang mengganjal dipikirannya.

“Ada apa, Shintaro?? Kenapa kau tiba–tiba kaget?” Tangan kanannya terus saja mengipas-ngipasi sate yang baru ia tumpangkan. Bau daging yang dibakarpun sedikit demi sedikit mulai tercium.

“K-kukira nama Paman itu Jazim, sesuai dengan nama warung ini.”

“Hahaha. Jadi hanya masalah nama hingga membuatmu kaget…” “… Nama Jazim adalah nama ayahku yang merupakan pendiri warung ini. Dan sekarang akulah yang mewarisinya.”

Paman Jaim mulai menjelaskan asal mula berdirinya Warung Sate Pak Jazim. Mendengar cerita dari Paman Jaim, Shintaro hanya mengangguk-anggukan kepalanya walaupun kepalanya masih tertutupi tudung jubah yang membuat gerakannya hampir tak diketahui oleh orang lain.

Tanpa disadari, bau harum dari bumbu-bumbu yang sudah dioleskan di daging sate yang sedang dipanggang sekarang sudah sangat pekat, hingga menyebar ke sekeliling warung.

Warna dari daging sate yang ditusuk oleh kayu tipis sudah mulai berubah kemerah–merahan, pertanda bahwa daging sudah matang.

“Ini pesananmu, Shintaro.”

Paman Jaim menyodorkan sepuluh tusuk sate yang baru saja matang dengan kertas minyak sebagai pembungkusnya. Seyum ramah diperlihatkan lagi oleh Paman Jaim kepada Shintaro.

“Terimakasih, Paman Jaim.”

Shintaro menerimannya dengan senang hati.

“Jadi, berapa harganya, Paman??”

Tangan Shintaro mulai mencari uang yang ada di dalam saku jubahnya.
Namun, dengan suara halus, Paman Jaim menghentikannya.

“Tidak usah, Shintaro. Anggap saja itu sebagai ucapan selamat datang dariku..”

“Yang benar?!”

“Apakah wajahku menunjukan kalau aku bercanda?!”

“Hehe… Tidak.” Shintaro membalasnya denga tertawa kecil.

“Baiklah, aku tidak akan melupakan kebaikan Paman.”

Shintaro berbalik, dan mulai melangkah meninggalkan tempat tersebut.

“Ya!! Jangan Lupa datang lagi!!”

“Ya! Aku pasti akan datang lagi!”

Sedikit demi sedikit, Shintaro sudah tidak terlihat oleh pandangan mata Paman Jaim.

“Ayah, tadi itu siapa? Mencurigakan sekali, apa Ayah tidak takut?” Saat sedang sibuk memanggang sate–satenya, seorang gadis berambut coklat yang diekor satu gaya pony tail mendekati Paman Jaim. Dari apa yang keluar dari mulutnya, sepertinya ia adalah anaknya Paman Jaim.

“Annisa, kau jangan menilai seseorang dari luarnya saja. Itu tidak baik!”

Paman Jaim sedikit membentak anaknya itu tanpa menatapnya. Sedangkan Annisa hanya tertunduk lesu dan mengeluarkan suara pelan.

“Ma-Maaf.”

“Baiklah! Ayo bekerja lagi! SEMANGAT!!”

Semangat bekerja ditunjukan oleh Paman Jaim dengan terus memanggang satenya.
Inilah semangat penjual sate yang sebenarnya, membara seperti tungku api miliknya.

“Si-Siap, Ayah!” Balas Annisa yang tak kalah semangat.

Sementara Paman Jaim dan anaknya sedang sibuk bekerja, di sisi lain…

***


Masih di jalan sekitar alun-alun kota Birght, Shintaro sedang berjalan santai sambil memakan beberapa tusuk sate yang masih hangat. Itu sangat terbukti dari asap tipis yang keluar dari daging satenya.

“Enak!
Komentar (0)
1 2 3 >>
Download Java buku

»[LN]Academy ExG - Festival of Magic Dance.
Perpustakaan
» Halaman utama «
» DAFTAR HADIR «
» Hadir (36 Orang) : . 6 more
» Pengintip : 6 Orang
» Ulang Tahun : 6 Orang
» CPU Usage : %
» MEMBER BARU «

» Aoitenshi Fansub-Coder «

» Utamakan Kualitas Bukan Kuantitas Video «